Saturday, April 26, 2008

We Should Be Very Thankful

Dengan mendorong gerobak minyak tanahnya, ia berjalan mengelilingi perumahan, mencari pelanggan yang mau membeli minyak tanah. Saat kami bertemu dengannya, kebetulan ia sedang tidak sibuk dan bersedia melayani wawancara kami. Melalui wawancara ini, saya disadarkan bahwa masih banyak orang yang harus berjuang keras untuk mendapatkan sesuap nasi.

Selama ini, saya dikelilingi dengan orang-orang yang juga memiliki kebutuhan yang lebih dari terpenuhi. Mungkin, oleh karena itu pula, saya lupa bahwa masih banyak orang-orang yang berada di bawah garis kemiskinan dan benar-benar berjuang untuk mendapatkan sesuap nasi. Semangat pantang menyerah dan kerja keras yang tinggi benar-benar terpancar dari orang-orang seperti Bapak Rail dan masih banyak lagi.

Hidup memang sebuah misteri. Banyak orang yang bekerja sangat keras, namun hanya mendapat penghasilan yang pas-pasan, sedangkan banyak pula orang yang bekerja malas-malasan, namun mendapat lebih dari yang diperlukan sehingga akhirnya menghambur-hamburkan barang dan material yang dimilikinya. Bila dibandingkan dengan Bapak Rail, saya termasuk golongan orang yang kedua. Sebenarnya, pekerjaan saya sebagai seorang pelajar hanya belajar, itu pun dapat saya lakukan dengan hanya duduk sambil membaca buku di kamar yang dilengkapi AC. Kebutuhan saya pun sudah lebih dari terpenuhi. Saya bisa makan yang enak di mall, yang mungkin merupakan pemborosan karena tersedia pula makanan yang lebih murah di rumah atau warung-warung di pinggir jalan. Sedangkan Bapar Rail, jangankan makan di mall yang ber-AC, ia pun hanya tinggal dengan agennya, yang berarti bahwa ia tidak punya tempat tinggal sendiri di Jakarta ini. Bila ada di posisinya, saya pasti akan merasa tersiksa untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan jumlah uang yang sama dengan penghasilan seorang penjual minyak tanah.

Saya merasa sangat bersyukur dengan keadaan saya saat ini. Saya juga disadarkan bahwa selama ini saya sudah terlalu banyak mengeluh. Bahkan, mungkin Tuhan juga sudah bosan mendengar keluhan dan kepenatan saya menjadi seorang pelajar.

Dengan bercermin pada kehidupan Bapak Rail, saya juga disadarkan untuk memiliki semangat pantang menyerah yang tinggi dalam kehidupan. Semenjak becak digusir, ia lantas langsung mencari pekerjaan lain. Saat ditanya apa yang akan dilakukan bila menjual minyak tanah sudah tidak lagi menguntungkan, jawabannya sangat sederhana, yaitu mencari pekerjaan lain. Sedangkan saya, begitu menerima hasil yang buruk, langsung mengeluh pada Tuhan. Sebenarnya, saya layak bersyukur karena diberikan kesempatan bersekolah di sekolah ternama dan dengan ruang kelas yang ber-AC. Di sisi lain, Bapak Rail hanya mampu menyekolahkan anaknya sampai tingkat SMP. Semoga kita dapat semakin sering bersyukur pada Tuhan karena kehidupan yang kita miliki dengan menyadari bahwa ada sekian banyak orang yang tidak seberuntung kita.

No comments: