Saturday, April 26, 2008
There're many people out there and I didn't know that..
Tapi apakah orang lain merasa sama seperti itu?
Udah gerimis...hujan...becek..ojek dimana-mana(banyak asap)..Kenapa hari dimana tugas wawancara saya berlangsung harus seperti ini???
Seharusnya saya bisa mengerjakan hal lain disaat itu...
Untuk menemukan orang yang bisa diwawancarai pun susah..Saya dan Jb sampai cukup kewalahan dengan hal itu..
Akhirnya saya berhasil menjumpai seorang penjual majalah..
Awalnya saya merasa kesal karena penjual itu terlihat malas diwawancarai..tidak serius..membuang-buang waktu..Tetapi akhirnya ia dapat diwawancarai dengan lebih leluasa..
Saya terkejut mendengarkan setiap hal-hal yang ia lontarkan..Hidupnya ternyata tidak semudah seperti yang saya jalani sekarang..Dan ia telah melakukan berbagai pekerjaan untuk menghidupi keluarganya seperti menjadi kuli, dll. Masalah yang ia hadapi ternyata lebih serius dari masalah-masalah yang sering saya hadapi dan ia tetap kuat dalam menjalani masalah-masalah itu.
Hmm....yang jelas banyak hal yang cukup mengejutkan bagi saya...Dan hal-hal tersebut tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata...Intinya ada banyak sekali orang dengan kehidupan dan kendala yang berbeda-beda. Dan orang-orang yang kekurangan seperti itu justru lebih kuat menghadapi masalah-masalah yang bisa membuat kita mundur..Saya rasa..kita harus tetap kuat dalam menjalani apapun karena semua hal pasti ada solusinya..dan yang penting,,selalu mengandalkan Tuhan^^
Perjuangan tak terbayangkan
Pak Zay, begitulah ia menyebutkan namanya. Sebagai pedagang koran dan majalah di daerah Pademangan, Pak Zay telah mulai bekerja dari jam 6 pagi sampai dengan jam 12 malam. Ia hanya beristirahat saat perlu makan dan menunaikan ibadah sholat dari durasi jam kerjanya yang luar biasa itu.
Dengan keluarga yang tinggal di Jakarta , ia mengaku bahwa uang yang didapatnya dari pekerjaan itu sangat pas-pasan untuk menghidupi istri dan seorang putranya yang masih bersekolah di SMPN 23. Barang-barang dagangannya ada yang diantarkan dan ada yang diambil dari agen yang berlokasi di Senen. Bapak yang lahir di Jakarta pada 20 Maret 1971 ini mengaku ia mampu terus menjalankan pekerjaannya karena hobinya membaca. Keuntungan yang pas-pasan tidak begitu dipedulikan Pak Zay asal ia masih bisa terus membaca. Pak Zay mengaku ia lulus SD saja tidak. Setelah berdagang selama kurang lebih 25 tahun ini Pak Zay masih belum juga mengalami peningkatan standar hidup, keadaan ekonominya kini diperparah dengan melonjaknya harga barang-barang kebutuhan sehari-hari yang dipicu oleh naiknya harga minyak.
Sungguh, dari pekerjaan dengan durasi dan aktivitas yang sungguh melelahkan itu menurut kami tidak sebanding dengan keuntungan yang ia peroleh. Tapi ketika ditanya suka dan duka selama menjadi pedagang koran dan majalah, Pak Zay tertawa lalu menjawab, “Yah, paling dukanya kalau lagi sepi, tapi ah, saya bekerja suka terus aja lah! Nggak ada yang saya anggap duka.â€
Be a better one...
Namun kini, setelah melihat kehidupan orang lain, saya menjadi sadar bahwa betapa beruntungnya saya dengan apa yang telah saya miliki saat ini. Saya tidak putus sekolah, saya tidak yatim-piatu, saya tidak harus tinggal di jalanan, saya tidak harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan saya. Ya, karena saya masih memiliki keluarga, orang tua, teman-teman yang selalu mendukung dan membantu saya jika sedang berada dalam kesulitan.
Saya sadar, selama ini saya selalu melihat ke atas dan menutup mata untuk melihat ke bawah. Saya selalu membandingkan diri saya dengan mereka yang jauh lebih beruntung, tanpa bersyukur dengan diri saya sendiri. Saya kurang peduli dan kurang peka terhadap mereka yang nasibnya kurang beruntung.
Dengan tugas wawancara ini, mata saya menjadi terbuka untuk melihat kehidupan orang-orang di sekitar saya. Saya akan lebih menghargai hidup saya, dengan selalu bersyukur atas setiap kesempatan yang masih Ia berikan. Atas kehidupan yang tak berkekurangan. Menjadikan sesama, baik yang lebih beruntung ataupun kurang beruntung sebagai panutan dan refleksi diri. Saya yakin, dengan lebih mensyukuri kehidupan ini, saya akan dapat merasakan kebahagiaan sesungguhnya dalam hidup yang tidak hanya bisa dinilai dari materil. Melainkan dengan mempelajari nilai-nilai kehidupan itu sendiri, akan membuat saya semakin mantap dalam menjalani hidup yang masih panjang ini.
Berawal dari jamu..
Panggil saja namanya Mba Sri. Sejak lulus sd pada tahun ’85, ia membuat sebuah keputusan besar yang cukup mengubah hidupnya. Ia tidak melanjutkan pendidikannya, melainkan merantau dari kampung halamannya, Desa Sampiran, Jawa Tengah ke ibukota bersama seorang teman. Harapan untuk menjadi pembantu rumah tangga semakin sirna, karena tak ada 1 pun kenalan yang dapat membantu mereka. Ketika itu, umurnya masih 17 tahun dan ia tinggal bersama budenya di Jakarta.
Sambil menyerahkan jamu pesanan kami, ia pun melanjutkan ceritanya. Pekerjaan budenya sebagai penjual jamu, membuat dirinya terbiasa untuk meracik bahan dan menjadi tukang jamu gendong bersama budenya. Setelah 2 bulan, timbulah dalam benaknya untuk menjadi tukang jamu seperti budenya. Sejak saat itu hingga hari ini, ia telah menekuni profesinya selama 25 tahun. Pada saat itu juga, ia bertemu dengan lelaki yang kini menjadi suaminya. Menikah di usia muda, menjadi pilihannya saat itu. Kini, ia telah dikaruniai 3 anak, anak pertama lelaki, berumur 22 tahun. Sedangkan anak kedua perempuan, berumur 18 tahun. Dan anak ketiganya lelaki, baru berusia 4 tahun.
Meski dengan kehidupan yang pas-pas an, ia berhasil menyekolahkan kedua anaknya. Anak pertamanya mendapat keringanan untuk bersekolah di STAN dan telah menyelesaikan kuliahnya. Kini tengah melamar di berbagai sekolah untuk menjadi guru agama. Sementara anak keduanya, sedang menjalani ujian kelulusan. Dan anak ketiganya, belum sekolah.
Mba Sri terlahir sebagai anak ketiga dari 4 bersaudara. Kakak laki-lakinya yang pertama berusia 47 tahun dan berprofesi sebagai tukang sayur. Sementara kakak laki-lakinya yang kedua berusia 43 tahun dan berprofesi sebagai guru agama. Adik perempuannya berusia 35 tahun dan berprofesi sebagai sales. Ketiganya telah berkeluarga dan tinggal di Jawa tengah. Jauh dari keluarga dan saudaran, membuatnya dulu saat masih tinggal bersama bude, pulang ke kampung halamannya setiap 6 bulan sekali. Namun kini, rutinitas itu tidak bisa terus berlanjut, mengingat biaya yang tidak sedikit.
Selama 2 tahun, Mba Sri dan suaminya tinggal bersama dengan bude. Hal ini dikarenakakan mereka belum mendapatkan rumah untuk mereka tinggali. Adapun, suaminya hanya bekerja sebagai tukang yang biasa membantu dalam renovasi. Pekerjaan ini membuatnya sering mengganggur bila tidak ada proyek.
Entah mengapa, meski telah bekerja keras siang malam, tidak juga mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Sebagai manusia biasa, kadang Mba Sri sering merasa bahwa Tuhan tidak adil kepada dirinya dan keluarganya. Namun itu semua dapat ia lalui dengan ketegaran hati, hingga saat ini ia masih bisa bertahan, masih dapat menyekolahkan anak-anaknya meskipun harus dengan jatuh bangun. Ia sungguh berharap, bahwa ketiga anaknya kelak dapat menjadi mencapai lebih daripada apa yang telah ia dan suaminya capai.
Pernah terlintas sejenak dalam pikirannya untuk beralih profesi, dengan maksud mendapatkan hidup yang lebih baik. Namun pikiran itu segera diurungkannya, mengingat kemampuan dan latar belakang pendidikannya yang terbatas. Lagipula kini, ia tengah asyik menekuni profesinya sebagai tukang jamu. Bahan untuk meracik tidak sulit didapatnya, dan lagi ia dapat membelinya dengan harga yang murah dari seorang kenalan. Ia juga merasa bangga dapat meneruskan warisan budaya Indonesia. Meskipun, tak dapat menyembunyikan dukanya, ketika dagangannya sepi pelanggan.
Wawancara ini pun kami akhiri. Setelah membayar Rp. 4000,00 untuk 2 gelas jamu yang tadi kami minum, kami pun pamit dan mengucapkan banyak terima kasih. Sungguh menjadi pengalaman yang sangat berharga, dan semakin membuka mata kami kepada kehidupan orang-orang di sekitar kami.
Refleksi pribadi Jessica
Kls/No : X6 / 15
Mewawancara orang yang ternyata tidak semudah yang dibayangkan.
Itulah yang terjadi saat saya dan Sari mencari narasumber di daerah pasar Pademangan. Nampaknya kok pedagang itu pada takut sekali kalau mau ditanya-tanya...
Tapi akhirnya kami berhasil mewawancara Pak Zay, seoranbg pedagang koran dan majalah.
Setelah mewawancara Pak Zay, saya merasa tersadar untuk menjalankan tugas saya sebagai pelajar sebaik-baiknya. Pak Zay, meskipun penghasilannya yang sangat pas-pasan tapi terus berdedikasi untuk menjalankan profesinya dengan sepenuh hati.
Saya menyadari, dengan keadaan saya yang masih sering merasa jauh dari puas dan berkecukupan, sebenarnya saya jauuuu...h lebih beruntung daripada Pak Zay. Saya tidak perlu dari pagi jam 6 sampai malam jam 12 menjaga kios majalah, kepanasan dan kehujanan untuk mencari uang. Saya mendapat uang saku langsung setiap bulan, tidak peduli saya di sekolah belajar dengan baik, atau misalnya sedang remed. Keadaan ekonomi saya tidak tergantung pada hal-hal seperti Pak Zay, mengandalkan ramai tidaknya orang yang mau membeli majalah/ koran, atau bergantung pada harga kebutuhan sehari-hari yang terus melonjak.
Yang benar-benar membuat saya tersentuh adalah ketika Pak Zay ditanya suka dan duka saat menjalankan profesinya selama kurang lebih 25 tahun itu, ia benar-benar menyukai pekerjaannya dan menganggap tidak ada hal yang patut dijadikan "duka" dari pekerjaannya. Sepi atau ramai, Pak Zay tetap menganggap pengalamannya bekerja sebagai "suka".Saya bertekad akan mengikuti semangat Pak Zay. Belajar sebaik-baiknya untuk meraih hasil yang terbaik. Tidak mudah kecewa apalagi merasa bahwa bersekolah itu amat berat dan membebani. Pada akhirnya kalau kita benar-benar memikirkan sekolah untuk jauh ke depan, itu semua adalah perasaan "suka" menanti masa depan yang harus lebih baik dari sekarang.
Saya mengharapkan dan mendoakan supaya Pak Zay dan keluarganya bisa mendapat perbaikan dan peningkatan standar hidup. Semoga semua usaha keras yang telah dilakukan Pak Zay suatu hari membawa hasil yang memuaskan baginya. Juga saya amini cita-cita Pak Zay supaya anaknya di kemudian hari dapat menjadi sukses. :)
.jb.
Manusia diciptakan oleh Tuhan memang berbeda satu sama lain. Mengapa ada orang miskin dan kaya? Mengapa ada orang cacat dan normal? Mengapa ada orang baik dan jahat? Mengapa ada orang pintar dan bodoh? Tujuan Tuhan atas perbedaan-perbedaan tersebut adalah agar kita saling melengkapi satu sama lain. Orang kaya membantu sesamanya yang berkekurangan, orang yang memiliki mental dan fisik yang normal dapat membantu orang yang cacat baik fisik maupun mental dalam menjalani hidup, orang yang memiliki hati baik mau menyadarkan orang-orang yang memiliki sikap jahat agar selalu berjalan di jalan Tuhan, orang pintar membantu orang yang bodoh ketika mengalami kesulitan dalam menghadapi sesuatu, dan sebagainya.
Saya mewawancarai seorang tukang sol sepatu yang beroperasi di Pasar Pal, dekat rumah saya. Kemudian saya mengahampirinya dan bertanya kepadanya mengenai pekerjaannya. Saya terkejut karena ia berasal dari Bandung dan jauh-jauh ke Depok untuk bekerja sebagai tukang sol sepatu. Ia tinggal di kontrakan dan pulang ke Bandung kurang lebih sebulan sekali. Penghasilannya sehari-hari tidak besar, sekitar Rp 15.000,- s/d Rp 25.000,- dan paling banyak antara Rp 45.000,- s/d 50.000,- , tetapi kadang-kadang ia tidak mendapatkan pelanggan, sehingga ia tidak mendapatkan uang sepeser pun, meskipun demikian ia harus tetap menanggung hidup istri dan 4 anaknya. Untungnya, istri dan 4 anaknya itu dapat menerima semuanya dan pasrah pada Tuhan. Kalau bisa sih, ia sangat ingin keluar dari kehidupannya sekarang dan mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik, tetapi hal tersebut hanya di angan-anganny saja, karena ia hanya lulusan SD karena orangtuanya juga tidak mampu membiayai pendidikannya dan karena pendidikan yang kurang tersebut menyebabkan ia tidak memiliki ketrampilan lain. Menjadi tukan sol sepatu saja karena ia melanjutkan pekerjaan kakaknya. Memang terkadang kalau kita lihat, dunia seperti tidak adil. Mengapa saya bisa bersekolah di sekolah swasta yang bayarannya juga tidak murah, tinggal di rumah yang nyaman bersama keluarga, mendapatkan fasilitas-fasilitas yang mencukupi, jalan-jalan bersama keluarga maupun teman, mendapatka uang jajan sebesar Rp 10.000 ditambah bekal setiap harinya, dan tidak harus menunggu seseorang meminta sepatunya untuk disol.
Tetapi, Tuhan memang sangat baik. Ia menciptakan ada orang-orang yang berkekurangan di tengah-tengah kita agar kita tidak lupa diri akan kekayaan yang kita miliki dan kita dapat belajar untuk selalu berjuang dan tidak pernah putus asa dalam menggapai sesuatu karena sesuatu itu hanya dapat dicapai dengan kerja keras, kemauan yang besar, dan semangat yang tinggi.
Friday, April 25, 2008
wawancara(tyas_04)
Pada suatu pagi yang cerah, saya pergi ke pasar dekat rumah saya untuk mencari seseorang agar dapat diwawancarai sebagai tugas religiositas. Lalu saya melihat ada dua orang tukang sol sepatu yang kemudian saya wawancarai. Inilah dialog saya dengan salah satu di antara mereka :
Tyas(T) : Pagi pak..Saya mau Tanya-tanya sedikit, ya seperti wawancara untuk tugas sekolah saja,Apakah boleh pak?
Pak Ade (A) : Ya boleh,,tapi saya tidak bisa ngomong yang panjang-panjang.
T : Siapa nama bapak?
A :Pak Ade Suparno, saya tinggal di Bandung.
T : Apa bapak bolak-balik Bandung-Depok setiap hari?
A : Tidak. Saya pulang ke Bandung 25 hari sekali atau sekitar 1 bulan. Saya tinggal ngontrak di dekat Pasar Pal ini.
T : Sudah berapa Lama Bapak bekerja menjadi tukang sol sepatu di sini?
A : Saya baru 3 bulan. Saya melanjutkan kakak saya bekerja sebagai tukang sol sepatu di sini yang sudah 15 tahun. Di sebelah sana adalah mertua saya, beliau bernama Pak Oban dan sudah 25 tahun bekerja sebagai tukang sol sepatu di sini.
T : Apakah Bapak sudah berkeluarga?
A : Sudah.
T : Berapa orang yang menjadi tanggungan Bapak?
A : 4 orang anak dan 1 istri saya, Jadi semuanya 5 orang yang saya tanggung.
T : Berapa penghasilan Bapak setiap harinya?
A : Penghasilan saya biasa 15 ribu sampai 25 ribu. Tapi kadang-kadang bisa ga dapet apa-apa. Paling banyak 45 ribu-50 ribu.
T : Apakah cukup untuk menghidupi keluarga?
A : kadang cukup,kadang-kadang tidak. Saya mengirim uang ke Bandung 2 minggu sekali. Kadang pakai wesel, kadang menitipkan pa da mertua saya.
T : Apa usaha Bapak agar anak-anak Bapak dapat hidup lebih baik lagi?
A : Ya saya pasrah-pasrah saja.Kalau ada rejeki cukup ya mudaha-mudahan anak-anak saya bisa mendapatkan yang lebih baik lagi.
T : Apakah Bapak memiliki cita-cita untuk berpindah ke pekerjaan yang lain dan tentunya bisa mendapatkan hasil yang lebih baik lagi?
A : Gimana ya..Soalnya saya tidak punya pengalaman yang lain. Saya cuma lulusan SD tahun 1985, setelah itu saya langsung bekerja untuk membantu orangtua.
T : Kalau begitu,terimakasih pak atas waktunya, semoga Bapak dan keluarga diberikan rejeki yang cukup.
A : Amin. Sama-sama neng.
Nb : Si bapak lagi gaya baca majalahnya sendiri...maksudnya sih lagi kerja..
